Beranda | Artikel
Tafsir Surah Al-Mutaffifin (Bag. 2): Akhir Kisah Para Fujjar, Orang-orang Durhaka
10 jam lalu

Pada tulisan kedua dari surah Al-Mutaffifin ini, Allah berbicara kepada kita tentang bagaimana akhir hidup para pendosa, orang-orang yang mendurhakai aturan Allah Ta’ala, menyebabkan kerusakan bagi banyak orang di muka bumi. Termasuk salah satu bentuk durhaka tersebut adalah mengurangi takaran dan timbangan. Mereka nekat melakukan yang demikian karena merasa tidak akan dibangkitkan di hari kiamat, merasa bisa selamat dari azab Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْفُجَّارِ لَفِيْ سِجِّيْنٍۗ

“Jangan sekali-kali begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar (tersimpan) dalam Sijjīn.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 7)

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan kepada kita tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang durhaka, yaitu amal keburukan dan kebusukan mereka tercatat rapi dalam sebuah catatan amal yang bernama Sijjin.

Allah menggunakan kata كَلَّآ yang digunakan untuk mencegah atau melarang manusia dari perbuatan curang yang telah disebutkan pada ayat sebelumnya. Curang ini bisa terjadi kepada orang kafir maupun orang mukmin. Perbedaannya adalah orang kafir melakukan itu karena tidak percaya adanya hari kiamat; sedangkan orang mukmin percaya kepada hari kiamat, akan tetapi melakukannya karena sedang lalai dan lupa bahwa amal mereka akan dihisab pada hari akhir.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا سِجِّيْنٌۗ , كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ

“Tahukah engkau apakah Sijjīn itu? (Ia adalah) kitab yang berisi catatan (amal).” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 8-9)

Kemudian ayat berikutnya menjelaskan tentang Sijjin yang telah disebutkan pada ayat berikutnya. Allah membuka ayat ini dengan pertanyaan, namun bukan untuk menunggu jawaban dari hamba. Akan tetapi, pertanyaan ini dibuat dan diulang untuk menunjukkan betapa agungnya Sijjin ini dan memberikan rasa takut kepada para hamba, jangan sampai amalnya dicatat dalam lembaran-lembaran ini.

Ulama sendiri berbeda pendapat tentang apa itu Sijiin, serta berbeda pendapat apakah ayat kesembilan merupakan penjelasan dari ayat sebelumnya; ataukah Sijjin dan kitab yang berisi catatan amal adalah dua hal yang berbeda.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa Sijjin adalah suatu tempat yang sangat dalam di neraka Jahanam, tempat orang-orang curang disiksa dan dibakar oleh para malaikat tanpa kenal ampun. Oleh karena itu, ayat kesembilan bukanlah merupakan penjelasan dari ayat sebelumya, akan tetapi dua hal yang berbeda. Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi menjelaskan bahwa  كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ bukan tafsir dari سِجِّيْنٌۗ; akan tetapi, كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ adalah kitab berisi nama-nama orang yang sudah digariskan dan ditakdirkan akan memasuki neraka Sijjin, neraka yang amat sangat dalam. Oleh karena itu, isi dari kitab ini permanen, tidak berubah, tidak akan ada jiwa yang ditambahkan di sana, juga tidak ada yang dikurangi.

Sebagian ulama lain menjelaskan bahwa ayat kesembilan merupakan tafsir dari ayat kedelapan. Dalam kitab Mahasinut Tafsir dijelaskan bahwa jika Allah membuka dengan kalimat وَمَآ اَدْرٰىكَ, maka setelahnya adalah tafsir dan penjelasan. Akan tetapi, jika Allah menggunakan kata وما يُدْرِيكَ, maka Allah akan biarkan itu tetap mubham tanpa penjelasan, untuk menguji keimanan kita pada hal yang gaib. Oleh karena itu, dalam Al-Kasyaf disebutkan bahwa Sijjin adalah sebuah buku besar yang memuat semua bentuk kejahatan dan kemaksiatan. Allah Ta’ala mengumpulkan di sana segala bentuk perbuatan buruk iblis, setan, orang kafir, dan orang fasik, baik dari golongan jin atau manusia. Semua orang mengerti bahwa di dalamnya tidak ada catatan kebaikan sedikitpun. Dinamakan Sijjin yang berarti tertahan dan sempit, dikarenakan kitab itu adalah sebab seseorang dihimpit dan ditahan di neraka jahannam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَۙ , الَّذِيْنَ يُكَذِّبُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِۗ

“Celakalah pada hari itu bagi para pendusta, yaitu orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 10-11)

Allah telah menyiapkan azab yang sangat pedih bagi para pendusta, dimana mereka mendustakan hari kiamat, atau balasan di hari kiamat, atau mendustakan salah satu saja hal yang diyakini itu berasal dari para Nabi.

Allah jelaskan siapa itu pendusta, yaitu mereka yang mendustakan hari pembalasan. Namun hal ini bukanlah bentuk penjelasan siapa itu pendusta, bukan juga pembatasan, akan tetapi sebagai bentuk celaan dan hinaan. Hal ini karena ancaman celaka bukan hanya berlaku bagi orang yang mendustakan hari kiamat saja, akan tetapi juga mendustakan salah satu saja ajaran para Nabi yang lain.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا يُكَذِّبُ بِهٖٓ اِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍۙ , اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَۗ

“Tidak ada yang mendustakannya, kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi sangat berdosa. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata, “(Itu adalah) dongeng orang-orang dahulu.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 12-13)

Kemudian Allah jelaskan sifat-sifat mereka nekat mengingkari adanya hari kiamat.

Pertama, mereka memiliki sifat مُعْتَدٍ yaitu berbuat fajir dan melampaui batas dari apa yang telah digariskan Allah sebagai aturan manusia di muka bumi.

Kedua, اَثِيْمٍۙ yaitu banyak dan sangat berdosa, seseorang yang tenggelam dalam gelapnya lautan dosa, senantiasa menjerang yang haram dan berlebih-lebihan dalam hal mubah.

Ketiga, mereka menuduh Al-Qur’an adalah dongeng orang-orang terdahulu, mereka menuduh risalah ini adalah kebohongan yang hanya digunakan sekedar untuk menakut-nakuti manusia, dikatakan bahwa peristiwa dalam Al-Qur’an sejatinya tidak pernah terjadi, hanya suatu dongeng yang bertujuan manusia melakukan kebajikan dan mencegah dari keburukan.

Pandangan yang menyatakan kisah dalam Al-Qur’an hanyalah dongeng, bukan kisah nyata yang pernah terjadi, dan hanya berfungsi sebagai kontrol sosial bukan hanya menjadi ucapan orang musyrik Quraisy, akan tetapi menjadi pemikiran yang masih hidup sampai zaman ini. Pandangan ini diucapkan oleh lisan-lisan busuk sebagian orientalis yang berusaha mereduksi kandungan Al-Qur’an. Di antaranya kita dapati nama-nama seperti J.J. Ten Berge, Theodor Nöldeke, John Wansbrough yang mencoba menghancurkan status Al-Qur’an sebagai kitab suci, mereka reduksi hanya sebagai kitab sejarah, dongeng orang terdahulu yang berfungsi sebagai kontrol sosial, dan semisalnya. Pandangan ini direspon oleh akademisi muslim dengan argumen yang kuat, di antaranya oleh Syekh Muhammad Musthafa Azami atau Aisyah bintu Syathi, dan semisal mereka, semoga Allah menjaga mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 14)

Setelah menyebutkan sifat-sifat busuk para pendusta ajaran syariat yang mulia ini, Allah jelaskan apa sebab mereka nekat mendustakan hari kiamat. Yaitu mereka terus-menerus melakukan dosa dan kesalahan, dari yang kecil menuju yang besar, sesekali kemudian berkali-kali kemudian menjadi kebiasaan, kemudian jadilah mereka meremehkan syariat dan meremehkan segala ajaran dalam Al-Qur’an. Hati mereka gelap, tidak mampu lagi untuk kembali menuju cahaya hidayah, tertutup untuk mendapatkan hidayah Al-Qur’an. Mereka menunda-nunda tobat mereka ketika melakukan kesalahan, sehingga yang awalnya noda kecil dalam hati, kemudian menjadi noda besar, lalu menutup hati mereka seluruhnya.

Dalam hadis yang diriwatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberikan pesan,

إن العبد إذا أذنب ذنبا، نكتت في قلبه نكتة سوداء، فإن تاب ونزع واستغفر، صقل قلبه، وإن عاد زادت حتى تغلف قلبه، فذلك الران الذي ذكره الله سبحانه في القرآن

“Jika seorang hamba melakukan dosa, maka akan tergoreslah setitik noda hitam dalam hatinya. Namun, jika dirinya segera bertobat, lari dari dosa terebut, serta beristigfar meminta ampun, maka akan kembali bersihlah hatinya. Sebaliknya, jika dia terus-menerus mengulangi dosanya, noda hitam tersebut akan menutup hatinya. Maka ini adalah ar-ran atau noda hitam yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كَلَّآ اِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِمْ يَوْمَىِٕذٍ لَّمَحْجُوْبُوْنَۗ , ثُمَّ اِنَّهُمْ لَصَالُوا الْجَحِيْمِۗ

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (rahmat) Tuhannya. Sesungguhnya mereka kemudian benar-benar masuk (neraka) Jahim.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 15-16)

Allah mulai dengan kata كَلَّآ yang membantah klaim orang-orang musyrik bahwa seandainya mereka hidup lagi di akhirat, maka mereka akan mendapatkan kehidupan yang mudah dan menyenangkan seperti di dunia, maka tidak dan sekali-kali tidak demikian. Sebaliknya, orang-orang yang mengingkari kebenaran ini akan terhalang dari rahmat Allah, tidak akan dilihat oleh Allah untuk diberikan ampunan. Merekapun terhalang dari melihat Allah dan memandang kemuliaan Allah pada hari kiamat. Pekatnya dosa-dosa mereka telah membutakan pandangan mereka di hari kiamat, ketika di dunia mereka buta terhadap tauhid, maka di hari kiamat Allah butakan mereka tidak bisa melihat. Sebaliknya orang-orang mukmin yang penuh cahaya tauhid, penuh keimanan, melihat Allah dengan pandangan penuh kenikmatan.

Orang-orang kafir digiring menuju neraka, neraka yang mereka dulu anggap hanya dongeng orang terdahulu untuk menakut-nakuti anak kecil agar tidak melawan orang tua mereka, cerita yang digunakan agar anak-anak tidak mencuri pohon mangga tetangga mereka, mereka katakan itu dengan lisan busuk mereka. Ternyata sekarang, mereka dapati neraka adalah kebenaran yang sangat nyata, mereka rasakan pedihnya siksaan nereka, mereka dibakar sampai hancur di neraka, setelah hancur mereka dibangkitkan kembali, bukan untuk istirahat namun untuk disiksa kembali, selama-lamanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ثُمَّ يُقَالُ هٰذَا الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَۗ

“Lalu dikatakan (kepada mereka), “Inilah (azab) yang selalu kamu dustakan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 17)

Malaikat Zabaniyah, para penjaga dan penyiksa di nereka mengatakan kepada mereka, “Rasakanlah, azab pedih yang dulu kalian dustakan, bahkan kalian olok-olok di dunia, sekarang kalian merasakannya tanpa pernah ada sedikitpun diringankan, bahkan setiap hari siksaannya akan bertambah sakit dan bertambah mengerikan.”

Pernyataan ini sebagai bentuk siksaan pada psikis dan jiwa penghuni neraka. Bukan hanya sekedar badan dan fisik mereka yang disiksa, namun psikis mereka juga dihancurkan dengan cara diolok-olok oleh para malaikat penjaga Jahanam. Sehingga hancurlah fisik dan jiwa mereka. Semoga Allah melindungi kita semua dan dijauhkan sejauh-jauhnya dari murka Allah.

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 1

***

Penulis: Dany Indra Permana

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

Catatan mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/


Artikel asli: https://muslim.or.id/116335-tafsir-surah-al-mutaffifin-2.html